Karakteristik Bahasa Jurnalistik

0 komentar
Sederhana
Berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya.

Singkat
Berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga. Konsekuensinya apa pun pesan yang akan disampaikan tidak boleh bertentangan dengan filosofi, fungsi, dan karakteristik pers.

Padat
Berarti sarat informasi setiap kalimat dan paragraph yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.

Lugas
Berarti kata selalu menekankan pada suatu arti serta menghindari kemungkinan adanya penafsiran lain terhadap arti dan makna kata tersebut.

Jelas
Berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Jelas disini mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya sesuai kaidah subjek-predikat-objek-keterangan (SPOK), jelas sasaran atau maksudnya.

Jernih
Berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah.

Menarik
Berarti mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur menjadi terjaga seketika.

Demokratis
Berarti Bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa sebagaimana dijumpai dalam gramatika Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa.

Populis
Berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca, pendengar atau pemirsa.

Logis
Berarti kata, istilah, kalimat atau paragraf jurnalistik harus dapat diterima dan tidak betentangan dengan akal sehat.

Gramatikal
Berarti kata, istilah, kalimat apa pun yang dipakai dan dipilih dalam Bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata Bahasa baku.

Mengutamakan kalimat aktif
Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan pemahaman dan lebih disukai oleh khalayak pembaca.

Menghindari kata tutur serta istilah asing dan teknis
Kata tutur ialah kata-kata yang digunakan dalam percakapan di warung kopi, terminal, bus kota, atau di pasar. Kata tutur ialah kata yang hanya menekankan pada pengertian, sama sekali tidak memperhatikan masalah struktur dan tata bahasa.
Pembaca atau pendengar harus tahu arti dan makna setiap kata yang dibaca dan didengarnya. Berita atau laporan yang banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif, juga sangat membingungkan pembaca dan pendengar.
Kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen, kecuali tidak efektif serta mengandung unsur pemerkosaan.

Pilihan kata (diksi) yang tepat
Pilihan kata atau diksi yang tidak tepat dalam setiap kata jurnalistik, bias menimbulkan akibat fatal. Seperti ditegaskan seorang pakar bahasa terkemuka, pengertian pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata itu. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. Fraseologi mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, atau yang memiliki nilai artistic yang tinggi (Keraf, 2004:22-23).

Tunduk kepada kaidah etika
Salah satu fungsi utama pers adalah edukasi, mendidik. Fungsi ini bukan saja harus tercemin pada materi isi berita, laporan, gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku. Dalam etika berbahasa, pers tidak boleh menuliskan kata-kata yang tidak sopan, vulgar, sumpah serapah, hujatan dan makian yang sangat jauh dari norma sosial, budaya dan agama. Pers juga tidak boleh menggunakan kata-kata porno dan verselera rendah lainnya dengan maksud untuk membangkitkan asosiasi serta fantasi seksual khalayak pembaca.

Sumber: Sumadiria, A.S Haris. 2006. Bahasa Jurnalistik: Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis. Bandung: Simbiosa Rekama Media.

Unsur Layak Berita

0 komentar
Berita Harus Akurat
Wartawan harus memiliki kehati-hatian yang sangat tinggi dalam melakukan pekerjaannya mengingat dampak luas yang ditimbulkan oleh berita yang dibuat. Kehati-hatian dimulai dari kecermatannya terhadapejaan nama, angka, tanggal dan usia serta disiplin diri untuk senantiasa melakukan periksa-ulang atu keterangan dan fakta yang ditemuinya.

Tentang betapa pentingnya akurasi ini dalam berita, Joseph Putlizer, tidak lama setelah ia pensiun sebagai pemimpin  redaksi New York World, mengatakan antara lain: “It is not enough to refrain from publishing fake news; it is notenough to avoid the mistakes which arise from the ignorance, the carelessness, the stupidityof one or more of the many men who handle the news. You have got to make everyone connected with the paper – your editors, your reporters, your correspondents, your rewrite men, your proofreaders- believe that accuracy is to a newspaper what virtue is to a woman.”

Sebagai wartawan buatlah catatan-catatan yang dapat dibaca tentang setiap fakta (jangan mengandalkan ingatan yang jarang akurat), terutama tentang detil-detil spesifik seperti nama, usia, tanggal, waktu, dan alamat. Jangan menganggap remeh hal-hal tersebut. Seperti juga skeptisisme, kewaspadaan yang disertai kesabaran memerlukan pemeriksaan-ganda. Skeptisisme artinya bahwa kisah yang dikliping dari koran pagi sebagai tip untuk pemberitaan sore harus dijamain oleh sumber yang dapat dipercaya. 

Seorang wartawan yang baik adalah apabila ia senantia menyangsikan kebenaran yang didengar dan dilihatnya, sehingga dalam dirinya selalu tertanam kewaspadaan untuk berhati-hati dan bersikap cermat. Tidak jarang seorang wartawan menjumpai orang (nara sumber) yang mengetahui jawaban suatu masalah, tetapi tidak mau mengatakannya secara akurat atau karena sesuatu alasan ia tidak mau mengatakannya secara cermat.

Berita Harus Lengkap, Adil dan Berimbang
Bagi seorang wartawan, untuk menyusun sebuah laporan atau tulisan yang adil dan berimbang tidaklah sesulit memelihara objektivitas, yang dimaksud dengan sikap adil dan berimbang adalah seorang wartawan harus melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi.

Unsur adil dan berimbang dalam berita mungkin sama sulitnya untuk dicapai seperti juga keakuratan dalam menyajikan fakta. Selaku wakil dari pembaca atau pendengar berita, seorang wartawan harus senantiasa berusaha untuk menempatkan setiap fakta atau kumpulan fakta-fakta menurut proporsinya yang wajar, untuk mengaitkannya secara berarti dengan unsur-unsur lain, dan untuk membangun segi pentingnya dengan berita secara keseluruhan.

Berita Harus Objektif
Selain harus memiliki ketepatan (akurasi) dan kecepatan dalam bekerja, seorang wartawan dituntut untuk bersikap objektif dalam menulis. Dengan sikap objektifnya, berita yang ia buat pun akan objektif, artinya berita yang dibuat itu selaras dengan kenyataan, tidak berat sebelah, bebas dari prasangka.

Dalam pengertian objektif ini, termasuk pula keharusan wartawan menulis dalam konteks peristiwa secara keseluruhan, tidak dipotong-potong oleh kecenderungan subjektif. Lawan objektif adalah subjektif, yaitu sikap yang diwarnai oleh prasangka pribadi. Memang ada beberapa karya jurnalistik yang lebih persuasive, artinya ada sikap subjektif di dalamnya, dan objektivitasnya agak kendur, misalnya dalam tulisan editorial atau komentar.

Berita Harus Ringkas dan Jelas

Dengan menulis ringkas, jelas dan sederhana, anda tidak perlu takut dikatakan tidak punya gaya. Ingat, pujangga besar Ernest Hemingway lewat cerpennya The Snow of Kilimanjaro yang juga telah difilmkan, dan cerpennya yang lain, The Killers memiliki alur gerak dinamik yang tumbuh dari gaya jurnalistiknya, yaitu kepandaiannya bertutur yang ringkas dan intens maupun cara bertuturnya yang saling susul itu. 

Penulisan berita yang efektif memberikan efek mengalir; ia memiliki warna alami tanpa berelok-elok atau tanpa kepandaian bertutur yang berlebihan. Ia ringkas, terarah, tepat, menggugah. Inilah kandungan-kandungan kualitas yang harus dikejar oleh setiap penulis.

Berita Harus Hangat
Penekanan pada konteks waktu dalam berita kini dianggap sebagai hal biasa. Konsumen berita tidak pernah mempertanyakan hal itu. Dunia bergerak dengan cepat, dan penghuninya tahu belaka bahwa mereka harus berlari, bukan berjalan, untuk mengikuti kecepatan geraknya. Peristiwa-peristiwa bersifat tidak kekal, dan apa yang nampak benar hari ini belum tentu benar esok hari, karena konsumen berita menginginkan informasi segar, informasi hangat, kebanyakan berita berisi laporan peristiwa-peristiwa “hari ini” (dalam harian sore), atau paling lama, “tadi malam” atau “kemarin” (dalam harian pagi).




Sumber: Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. 2005. Jurnalistik, Teori dan Praktik. Bandung: Rosda.